Senin, 25 Juli 2011

Dear Who Live In My Heart Part 2

Aku yakin semua akan baik-baik saja seandainya aku tidak menyukainya.Saat ini,bahkan setiap saat aku harus menanggung rasa malu yang tak jelas sebabnya.Awalnya hanya sering teringat tentangnya,lalu aku mulai sering membicarakannya di depan kakakku,lalu dia bilang bahwa aku tidak boleh sembarangan membicarakannya di depan orang.
"Memangnya kenapa???"tanyaku penuh kebodohan.
"Memangnya kamu mau jadi omongan orang???!!!Apalagi kalau cintamu di tolak!!!"
Tunggu!!!Cinta????Aku tertawa cekikikan.
Dunia ini pun rasanya ikut tertawa.Ulien,kakak sepupuku yang selalu kuanggap pintar kini tampak bodoh dimataku.Aku terus tertawa sampai kakakku pergi,dia tersenyum simpul sebelum mendorong kepalaku ke belakang.Dalam mimpi pun aku tersenyum saat mengingat omongannya itu hingga lama-lama aku merasa ini tidak lucu lagi,tapi aku tetap tersenyum mengingatnya.Jika bertemu dengannya,diam-diam aku tertawa lagi sampai rasanya jantungku mau pecah.Apakah aku kelihatan seperti orang yang kehilangan kewarasan??
Mungikn saja hampir.Secara fisik,dia sama sekali bukan tipeku.Kami tampak seperti angka satu dan nol besar jika di pasangkan.Aku diibaratkan burung kicauan sementara dia seperti karang es berjalan.Akan jadi seperti apa seandainya kami bersama??
Suatu pagi aku di kejutkan dengan kehadirannya di ruanganku.
"Tumben telat???Hujan ya???"Bagaimana dia tau ini kali pertama aku terlambat??Apa dia memperhatikanku setiap hari???Ooooouuuuwwwwhhhhh..........aku senang mendengarnya.
Setelah satu pertanyaan itu dia duduk dengan tenang seperti murid teladan.Inilah sifat aslinya!!
Sepi....
Walaupun dia cuma numpang tidur(semalaman begadang karena nunggu pasokan barang di gudang) tapi dia cukup mengganggu.Pria kurus ini membuat konsentrasiku buyar.Wajahnya yang tirus berkantung mata terlalu sayang untuk dilewatkan.Hhhhhhhhh..........Ya Tuhan,,,,sebenarnya apa yang sedang kupikirkan???Bodoh..

Seorang gadis kecil berlari-lari membawa sebuah es krim di masing-masing tangannya.Kuncir rambutnya bergoyang kesana-kemari dengan lucunya.Namanya Sita,anak kedua pemilik kantor tempatku bekerja.Ia datang bersama kakaknya Nathan dan mulai meracau bahwa es krimnya meleleh karena kakaknya terlalu pelan menyetir.
Dia lalu memberikan satu es krimnya untukku sambil mengatakan bahwa dia adalah Sita.Aku tahu dialah Sita yang di ceritakan Nathan tempo hari,Si Parkit.Tanpa kuduga dia langsung menuju ke kursi dan menubruk seseorang yang tidur disana.Dia tidak marah,walaupun kaget tapi dia langsung memeluk bocah itu dengan gemas.Sita sangat manja,seharian dia menempel terus padanya.
"Tau gini mending aku nggak ngajak Sita ke sini!"Nathan mengeluh.
Aku tertawa,"Adikmu kelihatannya akrab banget ya!!!!"dia tersenyum.
"Kalo mbak tahu pas kita bertiga lagi pergi ke pasar malam ngeri banget!!Kita jalan-jalan,Sita minta gendong mas Eza,pas ketemu temen-temennya,mereka kira Sita itu anak mas Eza!Hhhiiiiiiyyyyyyy.........aku ngeri banget ngebayangin mas Eza jadi bapakku!!kata Nathan bergidik.
Ouwwww........namanya Eza.......rasanya aku mau melonjak senang.Tanpa kusadari dadaku terasa sesak lagi.
"Kenapa nggak sekalian sama pacarnya mas Eza??Kan kelihatan kaya' keluarga!!'
"Waahhhh...serem banget mbak..!!!Untung mas Eza nggak punya pacar!!"
"Istri??"
"Apalagi istri!Jangan bilang-bilang ya mbak,....!!Nathan memberiku isyarat untuk mendekat.
"Dia udah 3 kali di tinggal ceweknya makanya dia belum mau pacaran lagi!!Udah 2 tahun jomblo!!bisiknya.
Apa??Tentu saja aku senang.Nathan dan Sita seperti jendela bagiku untuk mengintip sedikit kehidupan mas Eza.
Suatu hari pak Hamdi menyuruhku mengrimkan wesel tagih ke toko-toko pelanggan kami.Berkah ini memenuhi hatiku seperti jamur di musim hujan waktu aku tahu akan pergi dengan mas Eza.Jika dulu aku tidak percaya orang jatuh cinta itu akan menjadi sangat aneh,sekarang aku menyesali ucapanku sendiri.Dan mungkin aku malah lebih aneh dari pada yang lain.Kakakku benar,aku jatuh cinta.Dia membantuku menyadari perasaanku dengan membiarkanku tetap melantur.Sekarang aku tahu kenapa Dia menyuruhku untuk tidak membicarakannya karena Allah sedang memberikan anugrah-Nya yang lembut padaku.Kami berkeliling dan berbelanja barang pesanan pak Hamdi sampai malam.mas Eza membawa motornya ngebut karena takut aku kami sudah kemalamanAngin yang kami lewati seperti serpihan es yang menyayat kulit dengan kejam.
"Pakai saku jaketku,,nih...!!!!"mas Eza menyuruhku memasukkan tanganku ke saku jaketnya.Aku tersenyum-senyum sendiri.Ini mimpi atau bukan???
Ting...ting....ting...hatiku berdentingan seperti terbuat dari kaca,..mas Eza,,,tahukah kamu semua ini??Tidak tahu apa yang harus di katakan,bingung apa yang harus di lakukan,apa kamu juga sepert itu sekarang???Pasti tidak!!!Aku menebak-nebak apa yang kamu pikirkan,adakah tentang aku??Walaupun aku tahu itu mustahil tapi aku tetap berharap.Dirimu dan hatimu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar